Kontroversi seorang “Yusron Fuadi”

Yusron Fuadi ??

Yusron adalah satu dari sekian pengajar yang masih seumur jagung jika dilihat dari masa kerjanya. Berada di tengah program studi yang sepintas terasa jauh dari bidang ilmunya, tidak ada yang tahu benar bagaimana orang semacam itu akan bertahan bekerja di sini. Hingga suatu saat, terdengar kabar bahwa dia sedang membuat sebuah projek film panjang yang dibiayainya sendiri.

Banyak yang menyangka film itu diciptakan dengan tenang oleh Yusron dan kawan-kawan se-hobinya yang mungkin jumlahnya sudah tak terhitung. Apalagi mengingat bahwa ia sudah mulai membuat film sejak belum menerima pendidikan formal di bidang itu, jelas pasti banyak bala bantuan yang dengan senang hati merealisasikan projek film yang sudah diniatkan sejak 2014 itu.

Dengan biaya yang seadanya dan jadwal semampunya, rupanya benar bahwa Tengkorak sedang digarap. Anehnya, setiap artikel di media sosial yang menunjukkan progress pembuatan film itu, tidak banyak wujud manusia terlihat. Seiring dengan bertambahnya hitungan hari, wajah-wajah yang tampil mulai terlihat familiar, mahasiswa-mahasiswa yang ternyata sedang ia ajar.

Selang beberapa saat, keinginannya untuk mengambil gambar di tempat yang tidak wajar mendatangkan usulan untuk mengangkat tripod dan kamera ke atas Merapi. Tidak mau kalah ditantang oleh gengsinya sendiri, berangkatlah ia bersama sejumlah orang yang tak lain rekan pengajar dan mahasiswa. Tidak ada yang benar-benar menguasai medan selain satu orang pemimpin jalan. Dikawani oleh hujan lebat dan dingin yang tidak terbayang, keberhasilan pengambilan gambar pun benar didapatkan.

Rupanya bukan hanya potongan gambar yang puas diperolehnya dari momen itu. Kesadarannya akan loyalitas dan kerja keras kru pendatang barunya membuat proses pembuatan film berjalan dengan tempo yang lebih cepat. Jelas saja dari sisi kemampuan di bidang film, sumber daya yang dimilikinya bukan yang terbaik. Tapi dari totalitas dan kemauan belajarnya, tidak dapat ditolak bahwa mereka adalah manusia-manusia muda dengan potensi luar biasa.

Merasa tidak salah dengan keputusannya, Tengkorak dikerjakan dengan resiko yang terus membesar. Pengambilan gambar dengan skala masif dilaksanakan dengan bantuan puluhan mahasiswa dan ratusan masyarakat sekitar. Tidak hanya berhenti di sana, bantuan dari kalangan akademisi dan penggiat seni berdatangan secara perlahan.

Dapat dipastikan, Tengkorak yang dilahirkan 2 tahun yang lalu akan selalu bertumbuh di tangan kumpulan manusia yang tidak menyerah untuk belajar dan tumbuh menjadi besar. Karena kami, Tengkorak tumbuh. Karena Tengkorak, kami tumbuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*